Kisah Diana dan Rehan, Sepasang Pengantin Baru yang Hidup di Perantauan


kisah diana dan rehan
Ini aku,  Diana.  Aku hanya seorang istri, belum menjadi ibu, satu suami dan sebagai seorang ibu rumah tangga.  Kalian pasti tau,  pekerjaanku sehari hari apa saja.  Pagi itu aku sudah bangun sekitar jam 3 pagi.  Aku ingat semalam suamiku Mas Rehan memberi tahuku bahwa besok pagi pagi sekali dia ada meetting penting.  Jadi aku harus menyiapkannya lebih awal sebab tempat meettingnya juga jauh di Bandung.

Kami tinggal di Tangerang, sebenarnya kami berasal dari Wonosobo.  Hanya saja aku ikut suami tercinta yang bekerja disini.  Meskipun dikota besar,  kalau di rumah ya ngobrolnya pakai bahasa Jawa,  medok pula.  Aku hanya tak ingin meninggalkan bahasa yang sedari kecil aku pahami.

Semua keperluan Mas Rehan sudah aku siapkan, mulai dari  "Tas, laptop, jas, baju, dasi,  celana, ikat pinggang dan juga  berkas berkas..." sambil berkacak pinggang dan menunjuk nunjuk barang barang yang aku sebutkan aku berpikir ada yang kurang.  Tapi apa yaaa?  Aku coba cermati lagi eh ternyata tidak ada sepatu, tidak ada juga kaus kaki.

Aku segera mengambilnya dan melanjutkan yang lainnya.  Aku membuatkan sarapan untuknya, dan tiba tiba dia sudah ada dibelakangku.  "mmmmmm,  masak apa sayang?" ucap suamiku…. dengan senyumnya yang aku rasa saat pertama kali aku mencintainya adalah saat ia tersenyum begitu padaku.  Aku hanya menjawab "nasi goreng, hehe" sambil tersenyum lebar menunjukkan barisan gigiku.

"kopiku ning ndi yang?" (kopi saya dimana sayang) tanyanya dengan sedikit nada meminta dan memelas.  Aku selalu suka saat ia begitu  "belum tak buatkan,  Bentar.. " dan aku lupa kopi kami habis.  Aku cuma punya 2 teh celup.

"Mas,  kopinya habis, kan kita belum belanja bulanan bulan ini.  “Ming ada 2 teh celup. Nggak papa ta?" Dia menepuk jidatnya dan menjawab "yoo,  gak ppa,  buatkan saja yang spesial tapi ya. Haha"
"Biasanya juga spesial kan. "
"Masak? "

Bersambung ...

Posted by Sity Ma'rifatuss

Load comments